Laporan Jejak kasus Papua (Ferry)
Maluku Barat- www.jejakkasus.info – Sangat
mengecewakan! Ribuan calon penumpang Terlantar di Maluku Barat Daya, di
sebabkan Kapal Motor Sabuk Nusantara 34 tidak masuk ke pelabuhan dawelor
kecamatan Dawelor Dawera kabupaen Maluku barat daya.
Sekitar 50 orang calon penumpang dari
dua pulau tersebut yang biasa di kenal dengan nama kepulauan Amerere jadi
terlantar, Padahal calon penumpang yang akan berangkat tersebut sudah bersiap
siap di pantai dan menunggu kapal tersebut untuk berlayar bersama kapal
tersebut menuju saumlaki dan ambon.
Bahkan banyak penumpang yang akan
berlayar menuju jakarta dan timika papua mengingat musim liburan sekolah dan
tahun ajaran baru maka sebagian penumpang tersebut adalah siswa siswa yang akan
kembali sekolah maupun yang baru mau melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi
di berbagai kota.
Namun apalah daya, kapal tersebut
hanya melewati depan kedua pulau tersebut dan langsung menuju pelabuhan
saumlaki tanpa menghiraukan calon penumpang yang sedang menunggu kapal
tersebut, juga nasib para siswa tadi. Mungkin akan ada yang putus sekolah karena
terlambat balik ke sekolahannya dan yang pasti banyak siswa yang tidak jadi
melanjutkan sekolah tahun ini.
Suka tidak suka, mau tidak mau harus
menunggu tahun depan, hanya karena ulah Nahkoda KM Sabuk Nusantara 34 dan tidak
tegasnya PT PELNI Ambon dan Petugas Syahbandar yang ada di Provinsi
Maluku." Sekolah saya bagaimana ini, saya harus kembali untuk sekolah di
timika papua, kalo sudah begini saya pasrah saj". Ujar wempie yance saily
ketika di hubungi Jejak Kasus Perwakilan Papua via HPnya.
Begitu juga dengan nasib beberapa
karyawan perusahan swasta yang harus bersiap siap untuk kehilangan
pekerjaannya, hanya krn kapal tersebut tidak masuk pelabuhan dawelor dawera.
Menginggat masih terisolirnya daerah
tersebut dan susahnya transportasi laut antar pulau sehingga kalo sudah begini
masyarakat dawelo dawera hanya bisa pasrah saja.
Dari pantauan Jejakkasus.info, beberapa
waktu lalu yang pernah berlayar dengan KM Sabuk Nusantara 34 beberapa waktu
lalu, infonya, KM Sabuk Nusantara 34 di kelolah oleh PT PELNI dan bernaung di
bawah PEMDA Maluku Tenggara Barat ini, sangat lah tidak manusiawi.
Dari segi kebersihan, kapal ini sangat
bersih karena memang kapalnya masih baru, Eronisnya, kapal ini sering masuk di
pelabuhan dawelor dawera antara pukul 01 sampai pukul 02 pagi, senang berlabuh di luar teluk, Entah
kenapa sang Nahkoda lebih senang berlabuh di luar teluk dan enggan untuk
berlabuh di dalam teluk.
Di duga karena nahkoda tidak mau ambil
resiko karena sangat gelap saat memasuki pelabuhan dawelor dawera pada jam jam
menjelang pagi pukul 01:00 wib atau pukul 02:00 wib.
Hal inipun di rasakan wartawan Jejak kasus
.
Perlu di ketahui bahwa di dawelor dawera
belum ada PLN ataupun Lampu, Sehingga sangatlah gelap saat kapal masuk dawelor
dawera pada jam jam seperti itu.
Hal ini yang membuat warga kedua pulau
menduga bahwa, nahkoda kapal tersebut tidak berani masuk ke dalam teluk karena
gelap. Atau juga karena kepentingan hoby mancing Nahkoda dan ABK kapal sehingga
kapal sengaja tidak masuk teluk dan berlabuh di luar teluk karena banyak
ikannya.
Hal ini di buktikan dengan setiap
kapal tersebut berlabuh hampir semua abk kapal sudah mulai mancing, yg otomatis
mengganggu proses sandar perahu perahu masyrakat ke badan kapal. "
Kapal itu memang maunya berlabuh di
luar teluk karena mungkin nahkoda takut masuk teluk karen sangat gelap jadi
nahkoda tidak mau ambil resiko.
Atau kapal tersebut sengaja berlabuh
di luar teluk krn mereka abk kapal hobinya mancing. Buktinya kita mau sandar di
kapal sj susah krn pancingannya ABK kapal sangat banyak dan mengelilingi kapal.
Untuk itu kami masyrakat dawelor
dawera memintah kepada PT PELNI, Syahbandar dan dinas terkait melihat hal ini.
Kalo bisa kapal ini harus masuk
dawelor pagi atau siang. Soalnya di sini dermaga belum jadi, lampu tidak ada
Jadi kami sangat sengsara, Kalo bisa harus sama dgn KM Maloli dan KM Sabuk
Nusantara yg masuk Dawelor dan Dawera selalu pagi atau siang.
Kalo mau masuk malam di pelabuhan yang
ada dermaga dan lampu Jangan di dawelor dawera karena sangat tidak manusiawi,
Ujar Oimar.
Dari data yang ada, penumpang tujuan
dawelor dawera sering terbawah ke pelabuhan tepa karena kapal masuk dan
berlabuh jam 01 atau 02 subuh. Dan perahu penjemput belum datang atau belum sampai
di kapal, tetapi kapal sudah jalan, kejadian seperti ini yang sering terjadi bahkan
pernah terjadi kecelakaan perahu penjemput tenggalam hanya karena cepat cepat
mau jemput penumpang di kapal karena takut terbawa ke pelabuhan tepa.
Hal ini harus di perhatikan oleh pihak
terkait. Jangan tunggu korban baru bertindak’ Ujar Ketty Raprap.
Untuk itu masyarakat dawelor dawera
meminta kepada PT Pelni, Dirjend Hubla dan Pemda Maluku Barat Daya agar dapat
melihat persoalan ini.
Kepala Kantor PELNI Ambon, yang di
hubungi wartawan koran ini via Sms, tidak merepon atau membalas sms wartawan
koran ini. Kepala Kantor PELNI Saumlaki Maluku Tenggara Barat, Bpk Obeth
Manuhua. Yg di hubungi via sms mengatakan bahwa, waktu kapal keluar dari tepa
menuju dawelor, karena cuaca buruk dengan kecepatan angin timur tenggara 20 s/d
30 knot dengan ketinggian ombak 5 sampai 6 meter, maka nahkoda mempertimbangkan
demi keselamatan penumpang dan abk serta kapal, maka kapal melanjutkan
perjalanan langsung menuju pelabuhan saumlaki, Ini memang murni masalah cuaca.
Sementara mengenai seringnya kapal
tersebut masuk pelabuhan dawelor dawera jam 01 atau 02 subuh, menurutnya adalah
itu sudah sesuai jadwal. Karena kalo tidak berarti akan mempengaruhi di
pelabuhan yang lain.
Kepala kantor syahbandar Saumlaki, Ibu
Ece Peris yg di hubungi via sms mengatakan bahwa, kalau mau di konfirmasih,
saya tunggu di kantor karena ada berita acaranya.
Ketika di infokan bahwa wartawan koran
ini tidak di saumlaki dan berada di luar saumlaki, Ibu Ece Peris tetap menjawab
bahwa, untuk konfirmasi, saya tunggu di kantor (Ferry).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar